Tampilkan postingan dengan label Tahukah Anda?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tahukah Anda?. Tampilkan semua postingan

Perancang Lambang Republik Indonesia

0

Posted by Muhammad Rafik Makadomo | Posted in , | Posted on Minggu, November 29, 2009

http://jasadh.files.wordpress.com/2009/11/garuda-pancasila.jpg?w=272&h=297
SEPANJANG orang Indonesia, siapa tak kenal burung Garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila). Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu? Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913.

Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab –walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak –keduanya sekarang di Negeri Belanda.

Syarif Abdul Hamid Alkadrie menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.

Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) berdasarkan konstitusi RIS 1949 dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda. Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran. Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA. Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar – karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL. Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan; Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat di marah. Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara.
Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang. Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS.

Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974 Rancangan terakhir inilah yang menjadi lampiran resmi PP No 66 Tahun 1951 berdasarkan pasal 2 Jo Pasal 6 PP No 66 Tahun 1951. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.
Turiman SH M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak yang mengangkat sejarah hukum lambang negara RI sebagai tesis demi meraih gelar Magister Hukum di Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa hasil penelitiannya tersebut bisa membuktikan bahwa Sultan Hamid II adalah perancang lambang negara. “Satu tahun yang melelahkan untuk mengumpulkan semua data. Dari tahun 1998-1999,” akunya. Yayasan Idayu Jakarta, Yayasan Masagung Jakarta, Badan Arsip Nasional, Pusat Sejarah ABRI dan tidak ketinggalan Keluarga Istana Kadariah Pontianak, merupakan tempat-tempat yang paling sering disinggahinya untuk mengumpulkan bahan penulisan tesis yang diberi judul Sejarah Hukum Lambang Negara RI (Suatu Analisis Yuridis Normatif Tentang Pengaturan Lambang Negara dalam Peraturan Perundang-undangan). Di hadapan dewan penguji, Prof Dr M Dimyati Hartono SH dan Prof Dr H Azhary SH dia berhasil mempertahankan tesisnya itu pada hari Rabu 11 Agustus 1999. “Secara hukum, saya bisa membuktikan. Mulai dari sketsa awal hingga sketsa akhir. Garuda Pancasila adalah rancangan Sultan Hamid II,” katanya pasti. Besar harapan masyarakat Kal-Bar dan bangsa Indonesia kepada Presiden RI SBY untuk memperjuangkan karya anak bangsa tersebut, demi pengakuan sejarah, sebagaimana janji beliau ketika berkunjung ke Kal-Bar dihadapan tokoh masyarakat, pemerintah daerah dan anggota DPRD Provinsi Kal-Bar.**

Sultan Hamid II Pencipta Burung Garuda
Syarif Abdul Hamid Alkadrie yang bergelar Sultan Hamid Alkadrie II dan Sultan ke 8 Pontianak, Kalbar ini adalah pencipta Burung Garuda. Sultan Hamid juga orang Indonesia pertama yang berpangkat tertinggi di dunia militer.

Pontianak: Nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie memang kurang dikenal di Tanah Air. Padahal, tokoh nasional dari Pontianak, Kalimantan Barat ini adalah pencipta lambang negara Indonesia, Burung Garuda.

Selain pencipta lambang negara, Syarif yang bergelar Sultan Hamid Alkadrie II dan Sultan ke 8 Pontianak ini juga adalah orang Indonesia pertama yang berpangkat tertinggi di dunia militer, yaitu mayor jendral.

Sultan Hamid membuat lambang negara berdasarkan penugasan Presiden Sukarno pada 1950. Saat itu dia menjabat menteri tanpa porto folio. Rekannya, Muhammad Yamin sebenarnya juga membuat rancangan lambang negara, Namun, Sukarno akhirnya memilih rancangan Sultan Hamid. Setelah disempurnakan, gambar Burung Garuda diresmikan Sukarno sebagai lambang negara pada 10 Februari 1950.

Salinan sketsa Burung Garuda yang tersimpan di Keraton Kadriah, Pontianak ini menunjukkan proses pembuatan lambang negara sangat rumit hingga harus diubah berkali-kali.

Sumber : Dari berbagai sumber.

Jam Piket Organ Tubuh Manusia

0

Posted by Muhammad Rafik Makadomo | Posted in , | Posted on Jumat, November 27, 2009


Secara ajaib organ-organ tubuh manusia bekerja pada waktu-waktunya sendiri, yaitu pada waktu pagi hari, siang hari atau malam hari. Alangkah baiknya kita memahami hal ini sehingga kita bisa mengubah kebiasaan buruk yang merugikan diri sendiri.

LAMBUNG

Jam 07.00 - 09.00

Jam piket organ lambung sedang kuat, sebaiknya makan

pagi untuk proses pembentukan energi tubuh sepanjang

hari. Minum jus atau ramuan sebaiknya sebelum sarapan

pagi, perut masih kosong sehingga zat yang berguna

segera terserap tubuh.

LIMPA

Jam 09.00 - 11.00

Jam piket organ limpa kuat, dalam mentransportasi

cairan nutrisi untuk energi pertumbuhan. Bila pada

jam-jam ini mengantuk, berarti fungsi limpa lemah.

Kurangi konsumsi gula, lemak, minyak dan protein

hewani.

JANTUNG

Jam 11.00 - 13.00

Jam piket organ jantung kuat, harus istirahat, hindari

panas dan olah fisik, ambisi dan emosi terutama pada

penderita gangguan pembuluh darah.

HATI

Jam 13.00 - 15.00

Jam piket organ hati lemah, bila orang tidur, darah

merah berkumpul dalam organ hati dan terjadi proses

regenerasi sel-sel hati. Apabila fungsi hati kuat maka

tubuh kuat untuk menangkal semua penyakit.

PARU-PARU

Jam 15.00 - 17.00

Jam piket organ paru-paru lemah, diperlukan istirahat,

tidur untuk proses pembuangan racun dan proses

pembentukan energi paru-paru

GINJAL

Jam 17.00 - 19.00

Jam piket organ ginjal kuat, sebaiknya digunakan untuk

belajar karena terjadi proses pembentukan sumsum

tulang dan otak serta kecerdasan.

LAMBUNG

Jam 19.00 - 21.00

Jam piket organ lambung lemah sebaiknya tidak

mengkonsumsi makan yang sulit dicerna atau lama

dicerna atau lebih baik sudah berhenti makan

LIMPA

Jam 21.00 - 23.00

Jam piket organ limpa lemah, terjadi proses pembuangan

racun dan proses regenerasi sel limpa. Sebaiknya

istirahat sambil mendengarkan musik yang menenangkan

jiwa, untuk meningkatkan imunitas.

JANTUNG

Jam 23.00 - 01.00

Jam piket organ jantung lemah. Sebaiknya sudah

beristirahat tidur, apabila masih terus bekerja atau

begadang dapat melemahkan fungsi jantung.

HATI

Jam 01.00 - 03.00

Jam piket organ hati kuat. Terjadi proses pembuangan

racun/limbah hasil metabolisme tubuh. Apabila ada

gangguan fungsi hati tercermin pada kotoran dan

gangguan mata. Apabila ada luka dalam akan terasa

nyeri.

PARU-PARU

Jam 03.00 - 05.00

Jam piket organ paru-paru kuat, terjadi proses

pembuangan limbah/racun pada organ paru-paru, apabila

terjadi batuk, bersin-bersin dan berkeringat

menandakan adanya gangguan fungsi paru-paru. Sebaiknya

digunakan untuk olah nafas untuk mendapatkan energi

paru yang sehat dan kuat.

USUS BESAR

Jam 05.00 - 07.00

Jam piket organ usus besar kuat, sebaiknya biasakan

Sumber : www.sthepan'sloe.blogspot.com

Proses Pembuatan Prosesor Intel

0

Posted by Muhammad Rafik Makadomo | Posted in , | Posted on Kamis, November 26, 2009

1.Sand (pasir)

Pasir - terutama Quartz - memiliki persentase tinggi dari Silicon dalam pembentukan Silicon dioksida (SiO2) dan nerupakan bahan dasar untuk produksi semikonduktor.
Pasir - sekitar 25% masa Silicon yang merupakan senyawa kedua terbanyak - setelah oksigen - di muka bumi.

2.Silikon Cair:

Silikon dimurnikan dalam tahap berlapis untuk akhirnya nencapai kualitas produksi yang disebut Electronic Grade Silicon (EGS). EGS mungkin hanya mengandung sebuah atom asing setiap satu triliun atom Silikonnya. Pada gambar di bawah ini Anda bisa lihat bagaimana sebuah kristal besar tumbuh dari silikon cair yang dimurnikan. Hasilnya adalah kristal tunggal yang disebut Ingot. Silikon cair - skala: level wafer (~300mm / 12 inch)

3.Kristal Silikon Tunggal (Ingot)


Sebuah ingot dibuat dari Electronic Grade Silicon. Sebuah ingot memiliki berat sekitar 100 kilogram (220 pound) dan memiliki kemurnian Silicon 99.9999%. Mono-crystal Silicon Ingot -- scale: wafer level (~300mm / 12 inch)

4.Pengirisan Ingot:

Ingot kemudian diiris menjadi disc-disc silikon individual yang disebut wafer. Ingot Slicing -- scale: wafer level (~300mm / 12 inch)

5.Wafer:


Wafer-wafer ini dipoles sedemikian rupa hingga tanpa cacat, dengan permukaan selembut kaca cermin. Intel membeli wafer-wafer siap produksi itu dari perusahaan pihak ketiga. Process rumit 45nm High-K/Metal Gate oleh Intel menggunakan wafer dengan diameter 200 milimeter. Saat Intel mulai membuat chip-chip, perusahaan ini mencetak sirkuit-sirkuit di atas wafer 50 milimeter. Dan untuk saat ini menggunakan wafer 300mm, yang menghasilkan penghematan biaya per-chip. Wafer -- scale: wafer level (~300mm / 12 inch)

6.Mengaplikasikan Photo Resist:

Cairan (warna biru) yang di tuangkan di atas wafer saat diputar adalah sebuah proses dari photo resist yang sama seperti yang kita kenal di film untuk fotografi. Wafer diputar selama tahap ini untuk membuatnya sangat tipis dan bahkan mengaplikasikan layer photo resist. Applying Photo Resist -- scale: wafer level (~300mm / 12 inch)

7.Exposure:
a.

Hasil dari photo resist diekspos ke sinar ultraviolet (UV. Reaksi kimianya ditrigger oleh tahap pada proses tersebut, sama dengan apa yang terjadi pada material film pada sebuah kamera saat Anda menekan tombol shutter. Hasil dari photo resist yang diekspos ke sinar UV akan bersifat dapat larut. Exposure diselesaikan menggunakan mask yang berfungsi seperti stensil dalam tahap proses ini. Saat digunakan dengan cahaya UV, mask membentuk pola-pola sirkuit yang bervariasi di atas tiap layer dari mikroprosesor. Sebuah lensa (di tengah) mengurangi image dari mask. Sehingga yang dicetak di atas wafer biasanya adalah empat kali lebih kecil secara linier daripada pola-pola dari mask. Exposure -- scale: wafer level (~300mm / 12 inch)
b.

Meskipun biasanya ratusan mikroprosesor bisa dihasilkan dari sebuah wafer tunggal, cerita bergambar ini hanya akan fokus pada sebuah bagian kecil dari sebuah mikroprosesor, yaitu pada sebuah transistor atau bagian-bagiannya. Sebuah transistor berfungsi seperti sebuah switch, mengendalikan aliran arus listrik dalam sebuah chip komputer. Peneliti-peneliti di Intel telah mengembangkan transistor-transistor yang sangat kecil sehingga sekitar 30 juta transistor dapat diletakkan pas di kepala sebuah peniti. Exposure -- scale: transistor level (~50-200nm)

8.Membersikan Photo Resist:

Photo resist yang lengket dilarutkan sempurna oleh suatu pelarut. Proses ini meninggalkan sebuah pola dari photo resist yang dibuat oleh mask. Washing off of Photo Resist -- scale: transistor level (~50-200nm)

9.Etching (Menggores):

Photo resist melindungi material yang seharusnya tidak boleh tergores. Material yang ditinggalkan akan digores (disketch) dengan bahan kimia. Etching -- scale: transistor level (~50-200nm)

10.Menghapus Photo Resist:

Setelah proses Etching, photo resist dihilangkan dan bentuk yang diharapkan menjadi terlihat. Removing Photo Resist -- scale: transistor level (~50-200nm)

11.Mengaplikasikan Photo Resist:

Terdapat photo resist (warna biru) diaplikasikan di sini, diekspos dan photo resist yang terekspos dibersihkan sebelum tahap berikutnya. Photo resist akan melindungi material yang seharusnya tidak tertanam ion-ion. Applying Photo Resist -- scale: transistor level (~50-200nm)

12.Penanaman Ion:

Melalui seuatu proses yang dinamakan "ion implantation" (satu bentuk proses yang disebut doping), area-area wafer silikon yang diekspos dibombardir dengan "kotoran" kimia bervariasi yang disebut Ion-ion. Ion-ion ini ditanam dalam wafer silikon untuk mengubah silikon pada area ini dalam memperlakukan listrik. Ion-ion ditembakkan di atas permukaan wafer pada kecepatan tinggi. Suatu bidang listrik mempercepat ion-ion ini hingga kecepatan 300.000 km/jam. Ion Implantation -- scale: transistor level (~50-200nm)

13.Menghilangkan Photo Resist:

Setelah penanaman ion, photo resist dihilangkan dan material yang seharusnya di-doped (warna hijau) memiliki atom-atom asing yang sudah tertanam (perhatikan sekilas variasi warnanya). Removing Photo Resist -- scale: transistor level (~50-200nm)

14.Transistor Sudah Siap:

Transistor ini sudah dekat pada proses akhirnya. Tiga lubang telah dibentuk (etching) di dalam layer insulasi (warna magenta) di atas transistor. Tiga lubang ini akan terisi dengan tembaga yang akan menghubungkannya ke transistor-transistor lainnya. Ready Transistor -- scale: transistor level (~50-200nm)

15.Electroplanting:
a.

Wafer-wafer diletakkan ke sebuah solusi sulfat tembaga di tahap ini. Ion-ion tembaga ditanamkan di atas transistor melalui proses yang disebut electroplating. Ion-ion tembaga bergerak dari terminal positif (anoda) menuju terminal negatif (katoda) yang dipresentasikan oleh wafer. Electroplating -- scale: transistor level (~50-200nm)
b.

Pada permukaan wafer, ion-ion tembaga membentuk menjadi suatu lapisan tipis tembaga. After Electroplating -- scale: transistor level (~50-200nm)

16.Pemolesan

Material ekses dari proses sebelumnya di hilangkan. Polishing -- scale: transistor level (~50-200nm)

17.Lapisan Logam:

Lapisan-lapisan metal dibentuk untuk interkoneksi (seperti kabel-kabel) di antara transistor-transistor. Bagaimana koneksi-koneksi itu tersambungkan ditentukan oleh tim desain dan arsitektur yang mengembangkan funsionalitas prosesor tertentu (misal Intel® Core™ i7 Processor). Sementara chip-chip komputer terlihat sangat flat, sesungguhnya didalamnya memiliki lebih dari 20 lapisan yang membentuk sirkuit yang kompleks. Jika Anda melihat pada pembesaran suatu chip, Anda akan menemukan jaringan yang ruwet dari baris-baris sirkuit dan transistor-transistor yang mirip sistem jalan raya berlapis di masa depan. Metal Layers -- scale: transistor level (six transistors combined ~500nm)

18.Testing Wafer:

Bagian dari sebuah wafer yang sudah jadi ini diambil untuk dilakukan test fungsionalitasnya. Pada tahap test ini, pola-pola di masukkan ke dalam tiap chip dan respon dari chip tersebut dimonitor dan dibandingkan dengan daftar yang sudah ditetapkan. Wafer Sort Test -- scale: die level (~10mm / ~0.5 inch)

19.Pengirisan Wafer:

Wafer di iris-iris menjadi bagian-bagian yang disebut Die. Wafer Slicing -- scale: wafer level (~300mm / 12 inch)

20.Memisahkan Die yg tidak berfungsi:

Die-die yang saat test pola merespon dengan benar akan diambil untuk tahap berikutnya. Discarding faulty Dies -- scale: wafer level (~300mm / 12 inch)

21.Individual Die:
a.

b

Ini adalah die tunggal yang telah jadi pada tahap sebelumnya (pengirisan). Die yang terlihat di sini adalah die dari sebuah prosesor Intel® Core™ i7. Individual Die -- scale: die level (~10mm / ~0.5 inch)

22.Packaging:


Bagian dasar, die, dan heatspreader digabungkan menjadi sebuah prosesor yang lengkap. Bagian dasar berwarna hijau membentuk interface elektris dan mekanis bagi prosesor untuk berinteraksi dengan sistem komputer (PC). Heatspreader berwarna silver berfungsi sebagai pendingin (cooler) untuk menjaga suhu optimal bagi prosesor. Packaging -- scale: package level (~20mm / ~1 inch)

23.Prosesor:

Inilah prosesor yang sudah jadi (Intel® Core™ i7 Processor). Sebuah mikroprosesor adalah suatu produk paling kompleks yang pernah dibuat di muka bumi. Faktanya, dibutuhkan ratusan langkah - hanya bagian-bagian paling penting saja yang ditampilkan pada artikel ini - yang dikerjakan di suatu lingkungan kerja terbersih di dunia, sebuah lab mikroprosesor. Processor -- scale: package level (~20mm / ~1 inch)

24.Class testing:

Selama test terakhir ini, prosesor-prosesor akan ditest untuk key karakteristik mereka (diantaranya test pemakaian daya dan frekuensi maksimumnya). Class Testing -- scale: package level (~20mm / ~1 inch)

25.Binning:

Berdasarkan hasil test dari class testing, prosesor dengan kapabilitas yang sama di kumpulkan pada transporting trays yang sama pula. Binning -- scale: package level (~20mm / ~1 inch)

26.Retail Package:

Prosesor-prosesor yang telah siap dan lolos test akhirnya masuk jalur pemasaran dalam satu kemasan box. Retail Package -- scale: package level (~20mm / ~1 inch).

Sumber: http://haxims.blogspot.com/2009/11/sejarah-pensil.html

Daftar nama-nama pahlawan Indonesia

0

Posted by Muhammad Rafik Makadomo | Posted in | Posted on Minggu, November 22, 2009



A
* Jendral Besar Abdul Harris Nasution
* Abdul Kadir
* Abdul Muis
* Marsekal Muda Abdulrachman Saleh
* Kiai Haji Achmad Rifai (gelar dianugerahkan pada tahun 2004)
* Haji Adam Malik
* Mayor Jenderal Adenan Kapau Gani (gelar dianugerahkan pada tahun 2007)
* Marsekal Muda Agustinus Adisucipto
* Sultan Ageng Tirtayasa
* Sultan Agung Hanyokrokusumo
* Haji Agus Salim
* Kiai Haji Ahmad Dahlan
* Jenderal Ahmad Yani
* Mgr. Albertus Sugiyapranata S.J.
* Raja Ali Haji (gelar dianugerahkan pada 5 November tahun 2004)
* Tengku Amir Hamzah
* Andi Abdullah Bau Massepe (gelar dianugerahkan pada tahun 2005)
* Andi Jemma
* Andi Mappanyukki (gelar dianugerahkan pada tahun 2004)
* Haji Andi Sultan Daeng Raja (gelar dianugerahkan pada tahun 2006)
* Pangeran Antasari
* Arie Frederik Lasut
* Raden Mas Tumenggung Ario Suryo
* Sultan Arung Matoa
* Kiai Haji Abdul Halim (gelar dianugerahkan pada tahun 2008)

B
* Bagindo Azizchan (gelar dianugerahkan pada tahun 2005)
* Jenderal Basuki Rahmat
* Bung Tomo (gelar dianugerahkan pada tahun 2008)

C
* Teungku Cik di Tiro
* Cilik Riwut
* dr. Cipto Mangunkusumo
* Cut Nyak Dhien
* Cut Nyak Meutia

D
* Dewi Sartika
* Pangeran Diponegoro
* Douwes Dekker (Setiabudi)

E
* Elly Uyo (gelar dianugerahkan tahun 2002)

F
* Haji Fakhruddin
* Fatmawati
* Ferdinand Lumbantobing
* Raja Haji Fisabilillah
* Frans Kaisiepo

G
* Gatot Mangkupraja (gelar dianugerahkan pada tahun 2004)
* Jenderal Gatot Subroto

H
* Halim Perdanakusuma
* Sri Sultan Hamengkubuwana I (gelar dianugerahkan pada tahun 2006)
* Sri Sultan Hamengkubuwana IX
* Kopral Harun Thohir
* Letnan Jenderal Haryono
* Brigadir Jenderal Hasan Basry (gelar dianugerahkan pada tahun 2001)
* Sultan Hasanuddin
* Kyai Haji Mohammad Hasyim Asyari
* Prof. Dr. Hazairin

I
* Dr. Ide Anak Agung Gde Agung (gelar dianugerahkan pada tahun 2007)
* I Gusti Ketut Jelantik
* Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai
* H. Ilyas Yakoub
* Tuanku Imam Bonjol
* Sultan Iskandar Muda
* Ismail Marzuki (gelar dianugerahkan pada tahun 2004)
* Marsekal Madya Iswahyudi
* Prof. Dr. Iwa Kusumasumantri
* Izaak Huru Doko (gelar dianugerahkan pada tahun 2006)

J
* Gusti Pangeran Harya Jatikusumo
* Ir. Raden Juanda Kartawijaya

K
* AIP Karel Satsuit Tubun
* Raden Ajeng Kartini
* Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo
* Ki Hajar Dewantara
* Kiras Bangun (gelar dianugerahkan pada tahun 2005)
* Dr. Kusumah Atmaja S.H.

L
* La Madukelleng

M
* Sultan Mahmud Badaruddin II
* Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara VIII
* Maria Walanda Maramis
* Laksamana Laut Martadinata
* Martha Christina Tiahahu
* Marthen Indey
* Kiai Haji Mas Mansur
* Maskoen Soemadiredja (gelar dianugerahkan pada tahun 2004)
* Mayor Jenderal TNI Prof. Dr. Moestopo
* dr. Moewardi
* Mohamad Roem
* Drs. Mohammad Hatta
* Mohammad Husni Thamrin
* Prof. Mohammad Yamin S.H.
* Muhammad Isa Anshary (gelar dianugerahkan pada tahun 2006)
* Muhammad Natsir (Gelar dianugerahkan pada tahun 2008)
* Muhammad Saleh Werdisastro

N
* Nani Wartabone (gelar dianugerahkan pada tahun 2003)
* Kiayi Haji Noer Alie (gelar dianugerahkan pada tahun 2006)
* Nuku Muhammad Amiruddin
* Nyai Ahmad Dahlan
* Teuku Nyak Arif
* Nyi Ageng Serang

O
* Haji Oemar Said Tjokroaminoto
* Opu Daeng Risadju (gelar dianugerahkan pada tahun 2006)
* Oto Iskandar di Nata

P
* Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng (gelar dianugerahkan pada tahun 2006)
* Sri Susuhunan Pakubuwana VI
* Mayor Jenderal Pandjaitan
* Parada Harahap
* Kapitan Pattimura
* Kapten Pierre Tendean
* Pong Tiku

Q

R
* Radin Inten II
* Hajjah Rangkayo Rasuna Said
* Robert Wolter Monginsidi

S
* Dr. Saharjo S.H.
* G.S.S.J, Dr Sam Ratulangi
* Kiai Haji Samanhudi
* Slamet Riyadi
* Silas Papare
* Sisingamangaraja XII
* Letnan Jenderal Siswondo Parman
* Soekarno
* Jenderal Soedirman
* Kolonel Sugiono
* Sugondo Djojopuspito
* Prof. Dr. Suharso
* Siti Hartinah Suharto
* Sukarjo Wiryopranoto
* Supeno
* Prof. Dr. Soepomo
* Letnan Jenderal Suprapto
* Suprijadi
* Suroso R.P
* Raden Mas Soerjopranoto
* Sutan Syahrir
* dr. Sutomo
* Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo
* Sultan Syarif Kasim II
* Syech Yusuf Tajul Khalwati

T
* Tb.A.Basuni
* Tuanku Tambusai
* Tengku Rizal Nurdin (gelar dianugerahkan pada tahun 2005)
* Teuku Muhammad Hasan (gelar dianugerahkan pada tahun 2006)
* Teuku Umar
* Sultan Thaha Sjaifuddin
* Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (gelar dianugerahkan pada tahun 2006)
* Tan Malaka

U
* Untung Suropati
* Letnan Jenderal Urip Sumoharjo
* Usman Janatin

V

W
* Wage Rudolf Supratman
* Wahid Hasyim
* Wahidin Sudirohusodo
* Wilhelmus Zakaria Johannes

X

Y
* Yos Sudarso

Z
* Kiai Haji Zainal Mustafa
* Kiai Haji Zainul Arifin

Sumber: dari berbagai sumber

Para penemu dari Indonesia

0

Posted by Muhammad Rafik Makadomo | Posted in | Posted on Minggu, November 22, 2009

Ternyata menjadi bangsa Indonesia di dunia ini cukup membanggakan, karena memiliki putra-putra besar dalam segi ilmu pengetahuan yang tidak kalah dengan mancanegara, berikut daftarnya:

1. Abdul Jamil Ridho & Niti Soedigdo - Penemu Varietas Unggul Singkong Raksasa
2. Adi Rahman Adiwoso - Penemu Teknologi Baru dalam Telepon Bergerak Berbasis Satelit
3. Alexander Kawilarang - Penemu Kapal Ikan Bersirip
4. Andrias Wiji Setio Pamuji - Penemu Reaktor Biogas
5. Arief Mulyana Djumra - Penemu Pemacu Produktifitas dan Kualitas Udang dan Ikan
6. Aryadi Suwono & Tim Peneliti ITB - Penemu Bahan Pendingin Baru yang Lebih Hemat Energi
7. Ayub S. Parnata - Penemu Bakteri Kompos Organik
8. Bacharuddin Jusuf Habibie - Penemu Teori, Faktor dan Metode Habibie (Teknologi Pesawat Terbang)
9. Budi Noviantoro - Penemu Klip Penambat Bantalan Kereta Api dengan Dua Gigi
10. Dani Hilman Natawijaya - Penemu Indikator Alam (Terumbu Karang) terhadap Siklus Gempa
11. Djuanda Suraatmadja - Penemu Beton Polimer yang Ramah Lingkungan
12. Eddyman, Intan Elfarini & Kanaka Sundhoro - Penemu Obat Antinyamuk Alami dan Murah
13. Evvy Kartini - Penemu Penghantar Listrik Berbahan Gelas
14. Fuad Affandi - Penemu Pupuk Alami dari Air Liur
15. Herman Johannes - Penemu Tungku Berbahan Bakar Briket Arang Kayu dan Dedaunan
16. I Gede Ngurah Wididana - Penemu Formula Minyak Oles Bokhasi
17. I Made Budi - Penemu Formula Sari Buah Merah untuk Pengobatan
18. Lalu Selamat Martadinata - Penemu Alat Pemanggil Ikan
19. M. Djoko Srihono - Penemu Penjernih Air Limbah
20. Maruni Wiwin Diarti - Penemu Senyawa Antimikroba dari Rumput Laut
21. Minto - Penemu Kompor dan Pengering Hasil Tani dengan Tenaga Matahari
22. Mumu Sutisna - Penemu Hormon Penyubur Anakan Padi
23. Mulyoto Pangestu - Penemu Teknik Ekonomis Pembekuan Sperma
24. Neny Nurainy - Penemu Varian Virus Hepatitis B Indonesia
25. Puji Slamet Arif - Penemu Motor Listrik Hemat Energi
26. Rahmiana Zein - Penemu Teknik Pemisahan Cairan dalam Kecepatan Tinggi
27. Randall Hartolaksono - Penemu Formula Kimia Pemadam Api Ramah Lingkungan
28. Rizal & Juffri Sahroni - Penemu Penghemat Bahan Bakar Diesel
29. Robert Manurung - Penemu Minyak Jarak Murni
30. Saverinus Nurak - Penemu Mesin Pompa Tangan Berkekuatan Tinggi
31. Sutjipto & Ryantori - Penemu Konstruksi Fondasi Sarang Laba-laba
32. Sutrisno - Penemu Alat Perangkap Lalat Buah
33. Sedijatmo - Penemu Konstruksi Fondasi Cakar Ayam
34. Septinus George Saa - Penemu Rumus Penghitung antara Dua Titik Rangkaian Resistor
35. Sofin Hadi - Penemu Metode Cincin untuk Sunat Tanpa Luka
36. Sri Wuryani, Mustadjab, Euis M. Nirmala, Siwi Hardiastuti - Penemu Pengawet Aroma dalam Hampa
37. Tjokorda Raka Sukawati - Penemu Landasan Putar Bebas Hambatan Sosrobahu
38. Warsimin Adiwarsito - Penemu Marmer Buatan
39. Widowati Siswomihardjo - Penemu Bahan Baru untuk Gigi Palsu yang Lebih Aman dan Murah
40. Windu Hernowo - Penemu Penghemat Bahan Bakar Mesin
41. Yanto Lunardi Iskandar - Anggota Tim Penemu HIV & Metode Peningkatan Hematopoiesis
42. Yudi Utomo Imardjoko - Penemu Kontainer Limbah Nuklir
43. Zahlul Badaruddin - Penemu Zahlul Integrated Unit (Desain Sistem Efisien untuk Produksi Obat/Kimia)

Sumber : dari berbagai sumber